sekedarberbagi.info, Jakarta - Pemerhati kebijakan publik, Agus Pambagio,
mengkritik kebijakan pemerintah di bidang energi, khususnya ihwal harga
bahan bakar minyak (BBM). Menurut dia, kebijakan pemerintah menetapkan
harga BBM sesuai mekanisme pasar membuat stabilitas harga tak menentu.
"Saat ini harga BBM mengikuti kebijakan
harga 'sarung'. Dia bisa naik, dia bisa merosot," kat Agus dalam sebuah
diskusi di Jakarta, Minggu (29/3/2015).
Agus juga mengkritik sikap pemerintah yang
tidak melakukan sosialisasi soal perubahan harga BBM tersebut. Kenaikan
harga BBM pada Sabtu kemarin, misalnya, tidak disertai dengan pengumuman
secara terbuka kepada masyarakat. "Tidak disosialisasikan karena
sosialisasinya hanya di tingkat hulu antara kementerian dan DPR," kata
dia.
Agus menyatakan bahwa kenaikan harga BBM
pada November 2014 tidak dapat dihindari sebab subsidi BBM sudah hampir
Rp 400 triliun. Seiring perkembangan harga minyak dunia selama beberapa
bulan kemudian, ada peluang bagi pemerintah untuk menurunkan harga BBM.
Namun, kata Agus, pemerintah sebetulnya tidak perlu memangkas harga BBM.
"Biar saja uangnya buat tabungan. Di sisi
publik, kalau diturunkan tidak ada efeknya karena harga barang-barang
juga tidak turun," kata Agus.
Ia memperkirakan, jika nanti harga BBM naik
lagi, maka harga barang-barang yang sudah merangkak naik sejak November
akan kembali mengalami kenaikan harga. Atas dasar itu, dia berpesan
kepada pemerintah agar jika ada penurunan harga minyak dunia, sebaiknya
tidak serta-merta diikuti dengan penurunan harga BBM.
"Uangnya ditabung, sehingga kalau ada kenaikan kembali, bisa untuk menutupi, kan sudah tidak ada subsidi," ucap dia.
Mulai Sabtu (28/3/2015) pukul 00.00 WIB, harga
bahan bakar minyak (BBM) untuk distribusi Jawa, Madura, dan Bali
mengalami kenaikan. Harga BBM jenis solar naik menjadi Rp 6.900 per
liter dari harga sebelumnya Rp 6.400 per liter. Sementara itu, harga BBM
jenis premium naik menjadi Rp 7.400 per liter dari harga awal Rp 6.900
per liter.(Kompas)
