sekedarberbagi.info - Meski saat diumumkan hasil investigasi internal dari lima operator telekomunikasi dinyatakan SIM Card yang digunakannya aman dari dugaan penyadapan, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) nampaknya masih khawatir. Sehingga, pihaknya merencanakan jika SIM Card semua operator nantinya diproduksi di dalam negeri.
Hal itu juga diutarakan oleh anggota BRTI, Ridwan Efendi kepada Merdeka.com beberapa waktu yang lalu.
Menurutnya, Indonesia pada dasarnya sudah bisa memproduksi SIM Card sendiri, tapi karena hal ini merupakan kebijakan internal perusahaan telekomunikasi. Selain itu, negeri ini belum memiliki aturan itu, maka tentu saja pemerintah tidak bisa berbuat lebih jauh.
Sebagaimana diketahui, ada beberapa perusahaan dalam negeri yang sudah bisa membuat SIM Card, salah satunya yang terkenal adalah Xirka Silicon Technology. Perusahaan besutan Slyvia Sumarlin ini, mengaku mampu memproduksi SIM Card 100 juta unit per tahun. Angka yang lumayan besar untuk sebuah produsen SIM Card dalam negeri.
Namun dengan total kapasitas produksi tersebut, menurut CEO Indosat Alexander Rusli, masih terbilang kecil. Pasalnya, kata dia, Indosat saja setiap minggunya membutuhkan 2 juta unit SIM Card baru.
"Indosat itu jual kartu setiap minggunya 2 juta unit. Kebayang dong, berapa dalam sebulan. Apalagi, itu baru Indosat, belum operator yang lain seperti Telkomsel, XL, dan lain-lain," ungkapnya saat ditemui Merdeka.com seusai acara Indosat Grand Master Chess Match di Jakarta, Jum'at (20/03).
Apalagi, tambah dia, saat moment memasuki lebaran, jumlah SIM Card yang dibutuhkan, akan melonjak.
"Kalau gak sanggup, ujung-ujungnya impor juga," tandasnya.
Meski begitu, dirinya terbuka jika bekerjasama dengan pihak lokal, asalkan kapasitas dari SIM Card yang dibutuhkan operator mampu terpenuhi.
"Kita sih open-open aja. Asalkan itu tadi," tutupnya.(Merdeka)
