Kalangan pengusaha di Daerah Istimewa Yogyakarta mendesak pemerintah
menggenjot pendapatan devisa dolar Amerika Serikat untuk mengatasi
pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar.
Ketua Kamar Dagang dan Industri DIY, H.R Gonang Djuliastono, mengatakan
melemahnya nilai tukar rupiah memukul sebagian pengusaha yang mengimpor
bahan baku maupun produk dalam bentuk jadi. Dia mencontohkan importir
produk pertanian dan makanan, misalnya kedelai dan buah.
"Kedelai merupakan bahan baku yang vital. Pemerintah harus cepat
menstabilkan kondisi saat ini," kata dia, Selasa, 24 Maret 2015.
Menurut dia, melemahnya nilai tukar rupiah otomatis membuat barang yang
diimpor menjadi mahal. Untuk mengatasinya, pemerintah perlu segera
mempercepat paket ekonomi dalam jangka pendek. Paket itu di antaranya
meningkatkan nilai ekspor di sektor industri dan menekan laju impor.
Kadin DIY, menurut Gonang, mendorong pemerintah lebih mempermudah
pengurusan izin ekspor pengusaha. Dia mengkritik pemerintah yang belum
sepenuhnya memberikan kemudahan pengusaha ketika mengurus izin ekspor.
Selain itu, perlu keberanian dari pengusaha untuk memperluas pasar
ekspor selain kawasan Amerika dan Eropa. Kawasan Timur Tengah, kata
Gonang potensial. Mereka tertarik pada industri kerajinan dan mebel DIY
dan produk konstruksi bangunan. "Madinah adalah pasar yang bagus untuk
ekspor," kata Gonang.
Data dari Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UKM DIY
menunjukkan total nilai ekspor DIY pada 2013 mencapai US$ 211,76 juta.
Sedangkan, pada 2014 nilainya naik menjadi US$ 236,22 juta. Untuk nilai
impor pada 2013 mencapai US$ 154,99 juta. Sedangkan pada 2014 turun
menjadi US$ 25,48 juta.
Adapun, total nilai ekspor selama Januari 2015 di DIY mencapai US$ 16,75
juta. Komoditas ekspor itu di antaranya pakaian jadi, mebel kayu,
sarung tangan kulit, kerajinan kayu, kerajinan batu, dan kerajinan
kulit. Sedangkan total nilai impor selama Januari tahun ini sebanyak US$
0,54 juta. Produk impor di antaranya tekstil, kertas, plastik, suku
cadang mesin pertanian, mesin jahit, dan aksesoris.
Tak hanya meningkatkan nilai ekspor, sektor pariwisata juga diperlukan
untuk menambah devisa dolar. Gonang mengatakan kebijakan pemerintah
melalui pemberian bebas visa kunjungan singkat ke Indonesia bagi
wisatawan dari 30 negara menjadi solusi jangka pendek. Kebijakan ini
mulai diterapkan pada April 2015. Tujuannya untuk menaikkan jumlah
kunjungan wisatawan asing ke Indonesia.
Sekretaris Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia DIY, Heru Prasetyo
mengatakan sebagian besar pengusaha furnitur di DIY selama ini
mengekspor produknya ke negara di kawasan Eropa dan Amerika. Menguatnya
nilai tukar dolar terhadap rupiah menggembirakan bagi sebagian
eksportir. Mereka kebanyakan menggunakan bahan baku lokal untuk produk
yang diekspor.
Tapi, menguatnya nilai dolar saat ini juga berimbas pada eksportir yang
membeli sebagian bahan baku dari luar negeri. Dia mencontohkan kalangan
industri pembuat patung yang menggunakan bahan resin yang diimpor dari
Cina dan Singapura. Ada pula mebel partisi, misalnya meja belajar yang
sebagian bahannya impor.
Menurut Heru, satu tong resin atau 225 kilogram resin misalnya harganya
menjadi Rp 7,2 juta setelah harga dolar naik. Sebelum dolar menguat
harga resin sebanyak 225 kilogram Rp 6,3 juta. "Bahan ini penggunaannya
sedikit. Untuk mebel hanya 10 persen," kata dia.(Tempo)
