sekedarberbagi.info, Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama
mengaku pernah menantang Kepala SMA Negeri 3 Retno Listyarti untuk
menjadi Kepala Dinas Pendidikan DKI. Ketika Basuki masih menjabat
sebagai Wakil Gubernur DKI, Retno pernah menghadapnya dan memberi
ide-ide soal pendidikan.
"Waktu itu kan waktu saya jadi Wagub,
beliau datang kasih masukan macam-macam ke saya soal pendidikan. Saya
bilang, 'Anda PNS berani enggak jadi kepala dinas?' Dia kan punya ide
macam-macam tuh. Jadi saya tantang balik," ujar Basuki di kawasan Pluit,
Jakarta Utara, Sabtu (18/4/2015).
Basuki menuturkan, Retno juga menyerahkan
kumpulan tanda tangan dukungan untuk menjadi kepala dinas. Retno sempat
tidak lulus dalam tes pertama menjadi kepala sekolah, tetapi akhirnya
lulus setelah tes kedua.
Basuki menyimpulkan bahwa banyak sekali
orang yang pandai mengomentari sesuatu. Padahal, semua tidak semudah
yang dibicirakan. Hal ini termasuk bidang pendidikan yang selama ini
gencar disuarakan oleh Retno.
"Enggak bisa juga, makanya kadang-kadang orang itu ngomentarin
orang lain kadang lebih gampang. Tapi kalau disuruh jadi, jadi
Kadisdik, kan bukan soal punya ide, tapi punya keberanian enggak untuk
eksekusi," ujar Ahok, sapaan Basuki.
Ahok berjanji bahwa Dinas Pendidikan DKI
akan menuntaskan permasalahan Retno. Mengutip komentar Kepala Dinas
Pendidikan Arie Budiman, Ahok mengatakan bahwa Retno tidak boleh lagi
menjadi kepala sekolah. Apa pun alasan yang dilontarkan Retno, bukanlah
alasan untuk meninggalkan anak didiknya di waktu ujian nasional.
"Karena kan orang lagi ujian, harusnya kepala sekolah yang bertanggung jawab ada di tempat ujian itu," ujar Ahok.
Ketika SMAN 3 menggelar ujian nasional pada
Selasa (14/4/2015), Retno mendatangi SMAN 2, Olimo, Jakarta Barat. Saat
itu Presiden Joko Widodo, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies
Baswedan, serta Basuki tengah meninjau pelaksanaan UN di SMAN 2.
Retno mengaku siap diberi sanksi jika
dianggap salah. Namun, ia merasa tidak melakukan kesalahan karena
kedatangannya ke tempat tersebut dilakukan untuk memenuhi wawancara
dengan sebuah stasiun televisi.
"Selain kepala sekolah, saya juga petinggi
organisasi guru. Saya diwawancarai tentang kebocoran soal UN (ujian
nasional). Itu peran saya sebagai petinggi organisasi guru," ujar Retno.(Kompas)
