sekedarberbagi.info, Jakarta - Mantan ajudan presiden Soeharto, Irjen (Purn) Anton Tabah mempertanyakan
tujuan utama Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo)
memblokir beberapa situs Islam. Menurutnya, ada kemungkinan lain dari
sekedar tuduhan penyebaran paham radikal dan pro-ISIS.
“Saya baca di sebuah media online, Humas BNPT Irfan Idris
mengatakan, penutupan situs-situs media Islam itu disebabkan mereka suka
menghina dan menjelek-jelekkan Jokowi. Jadi, itu sebabnya? Bukan karena
pro-ISIS?” ujar Anton dalam keterangan tertulis yang diterima Republika, Rabu (1/4).
Dengan demikian, kata dia, tujuan pemblokiran sudah bergeser dari surat
permintaan resminya. Padahal surat resmi Badan Nasional Penanggulangan
Terorisme (BNPT) ke Kemenkominfo menyebutkan alasan pemblokiran karena
media-media Islam tersebut pro-ISIS.
“Kenapa sekarang Irfan mengatakan karena sering menjelek-jelekkan Jokowi?” kata anggota Komisi Hukum MUI Pusat tersebut.
Menurutnya, jika benar demikian, BNPT telah salah besar. Jika masalahnya
karena menjelek-jelekkan Jokowi, itu bukan merupakan ranah BNPT. Lagi
pula, media yang menyuguhkan fakta yang sebenarnya bukan berarti
menjelek-jelekkan.
Anton menyayangkan, era pemerintahan Jokowi, hukum menjadi semakin
runyam. Padahal sudah jelas membredel media sekarang sudah dilarang UU
Pers Nomor 40 Tahun 1999. “Lagi pula, kalau pun ada media yang
melanggar, pemblokiran atau pembredelan harus melalui keputusan
pengadilan, tidak boleh membredel, memblokir atau membrangus media
semaunya sendiri,” jelasnya.(ROL)
